Thursday, 26 December 2013

LANGEN BUDAYA BANYUMAS


Komunitas kesenian lengger calung yang tumbuh dan berkembang di wilayah Banyumas, tepatnya di desa Papringan. Langen mempunyai arti lelomban/seneng-seneng,  Langen Budaya berarti melomba didalam budaya. Komunitas ini didirikan oleh Bapak Hadi Soemarto Sukendar (63) pada tahun 1982.  Ia mendirikan komunitas ini sebagai bentuk kecintaannya terhadap kebudayaan Indonesia.  Khususnya budaya lengger calung Banyumas.  Sesuai namanya lengger calung terdiri dari lengger (penari) dan calung (gamelan bambu).  Gerakan tarinnya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung.  Tarian lengger tersebut mempunyai bermacam-macamgerakan khas antara lain gerakan “geyol”, “gedheg” dan “lempar sampul”.  Lagu banyumasan digunakan untuk mengiringi tarian seperti “bendrong kulon”, “renggong majih”, “siji lima”, “kembang klepang”, “ilo gondang”, “sekar gadung” dan “malangan”.
Pertunjukan kesenian lengger pada zaman dahulu dilakukan dalam waktu semalam suntuk.  Penarinya seorang laki-laki dan hanya diiringi gamelan calung, sehingga dinamakan lengger calung.  Dalam pertunjukannya terdapat kekuatan gaib yang merasuki tubuh penari, sehingga penari memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan dengan penari lainnya.  Kekuatan gaib yang merasuki penari dinamakan indang.  Indang ini tidak mudah datang begitu saja tetapi diperoleh dengan cara menjalankan ritual.  Seperti bersemedi atau berkonsentrasi ditempat yang dianggap keramat/sakral baik oleh kelompok kesenian ataupun oleh masyarakat setempat.  Keberadaan indang sangat terlihat melalui para penari yang sedang menari.  Penari akan sanggup menari selama berjam-jam tanpa lelah. Tariannya terlihat indah dan erotis, serta memiliki daya tarik yang luar biasa bagi para penontonnya.
Sekarang lengger ditarikan oleh penari wanita.  Dalam penyajiannya diiringi oleh vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden.  Satu grup lengger calung kurang lebih memerlukan 11 orang anggota terdiri dari penabuh gamelan dan penari lengger.  Jumlah penari lengger  2 sampai 3 orang.  Untuk menjadi penari lengger seseorang harus mengikuti ritual ditempat-tempat sakral seperti panembahan.  Hal ini dilakukan agar para penari lengger diberi kemudahan dan bisa menarik hati para penontonnya saat pentas.  Mereka juga harus berdandan sedemikian rupa agar terlihat sangat menarik, seperti rambut kepala disanggul, leher sampai dada bagian atas biasanya sedikit terbuka, kemudian sampur atau selendang biasanya dikalungkan di bahu, serta mengenakan kain/ jarit dan stagen.  Tarian lengger tersebut mengikuti irama khas banyumasanyang lincah dan dinamis.  Dengan didominasi oleh gerakan pinggul, sehingga terlihat sangat menarik.  Peralatan calung terdiri dari “gambang barung”, “gambang penerus”, “dhendem”, “kenong” dan “gong” yang semuanya terbuat dari bambu sedangkan “gendang/gendang” sama seperti “gendang” biasa.
Pementasan lengger calung tidak dilakukan pada bulan Syawal dan Sura di kalender jawa.  Karena pada bulan tersebut digunakan untuk ruat bumi kesenian wayang.  Tarian lengger digunakan untuk ritual mengundang hujan, saat panenan/musim panen bagi para petani, syukuran pembuatan bangunan.  Tujuannya agar semuanya diberi keselamatan.  Tetapi kini tarian lengger calung digunakan untuk mengisi acara pernikahan, khitanan dan festival budaya.  Hal ini dilakukan untuk melestarikan kesenian lengger calung banyumas ditengah gempuran budaya asing yang masuk ke Indonesia.  Selain itu, ada beberapa kalangan yang tidak menyukai lengger.  Mereka beranggapan bahwa budaya lengger calung bertentangan dengan ajaran agama Islam.  Seperti syarat yang harus dilakukan untuk menjadi penari lengger.  Hal tersebut dianggap musyrik oleh beberapa kalangan.  Dan juga tariannya yang dianggap seronok mengandung unsur pornografi.  Tetapi Bapak Hadi Soemarto Sukendar selaku ketua Langen Budaya Banyumas mengatakan, ”penyebaran ajaran agama dulu tidak bisa lepas dari budaya setempat”.  Karena para alim ulama memakai kebudayaan dimasing-masing wilayah untuk menyebarkan ajaran yang dibawanya.  Ia juga beranggapan bahwa negara yang besar adalah negara yang mencintai dan melestarikan budayanya.  Karena budaya merupakan warisan nenek moyang dan sebagai jati diri suatu bangsa yang harus dipertahankan.