Komunitas kesenian
lengger calung yang tumbuh dan berkembang di wilayah Banyumas, tepatnya di desa
Papringan. Langen mempunyai arti lelomban/seneng-seneng, Langen Budaya berarti melomba didalam budaya.
Komunitas ini didirikan oleh Bapak Hadi Soemarto Sukendar (63) pada tahun 1982. Ia mendirikan komunitas ini sebagai bentuk kecintaannya
terhadap kebudayaan Indonesia. Khususnya
budaya lengger calung Banyumas. Sesuai namanya lengger
calung terdiri dari lengger (penari) dan calung (gamelan bambu). Gerakan tarinnya sangat dinamis dan lincah
mengikuti irama calung. Tarian lengger
tersebut mempunyai bermacam-macamgerakan khas antara lain gerakan “geyol”, “gedheg”
dan “lempar sampul”. Lagu banyumasan
digunakan untuk mengiringi tarian seperti “bendrong kulon”, “renggong majih”, “siji
lima”, “kembang klepang”, “ilo gondang”, “sekar gadung” dan “malangan”.
Pertunjukan kesenian lengger pada zaman dahulu dilakukan dalam waktu
semalam suntuk. Penarinya seorang laki-laki dan hanya diiringi gamelan
calung, sehingga dinamakan lengger calung.
Dalam
pertunjukannya terdapat kekuatan gaib yang merasuki tubuh penari, sehingga
penari memiliki kekuatan yang lebih dibandingkan dengan penari lainnya. Kekuatan
gaib yang merasuki penari dinamakan indang. Indang
ini tidak mudah datang begitu saja tetapi diperoleh dengan cara menjalankan
ritual. Seperti bersemedi atau berkonsentrasi ditempat yang
dianggap keramat/sakral baik oleh kelompok kesenian ataupun oleh masyarakat
setempat. Keberadaan indang sangat terlihat melalui para penari
yang sedang menari. Penari
akan sanggup menari selama berjam-jam tanpa lelah. Tariannya terlihat indah dan
erotis, serta memiliki daya tarik yang luar biasa bagi para penontonnya.
Sekarang lengger ditarikan oleh penari wanita. Dalam
penyajiannya diiringi oleh vokalis yang lebih dikenal sebagai
sinden. Satu grup lengger calung kurang
lebih memerlukan 11 orang anggota terdiri dari penabuh gamelan dan penari lengger. Jumlah penari lengger 2 sampai 3 orang. Untuk menjadi penari lengger seseorang harus
mengikuti ritual ditempat-tempat sakral seperti panembahan. Hal ini dilakukan agar para penari lengger
diberi kemudahan dan bisa menarik hati para penontonnya saat pentas. Mereka juga harus berdandan sedemikian rupa
agar terlihat sangat menarik, seperti rambut kepala disanggul, leher sampai
dada bagian atas biasanya sedikit terbuka, kemudian sampur atau selendang
biasanya dikalungkan di bahu, serta mengenakan kain/ jarit dan stagen. Tarian lengger tersebut mengikuti irama khas
banyumasanyang lincah dan dinamis. Dengan
didominasi oleh gerakan pinggul, sehingga terlihat sangat menarik. Peralatan calung terdiri dari “gambang barung”,
“gambang penerus”, “dhendem”, “kenong” dan “gong” yang semuanya terbuat dari bambu
sedangkan “gendang/gendang” sama seperti “gendang” biasa.
Pementasan
lengger calung tidak dilakukan pada bulan Syawal dan Sura di kalender jawa. Karena pada bulan tersebut digunakan untuk
ruat bumi kesenian wayang. Tarian
lengger digunakan untuk ritual mengundang hujan, saat panenan/musim panen bagi
para petani, syukuran pembuatan bangunan. Tujuannya agar semuanya diberi keselamatan. Tetapi kini tarian lengger calung digunakan
untuk mengisi acara pernikahan, khitanan dan festival budaya. Hal ini dilakukan untuk melestarikan kesenian
lengger calung banyumas ditengah gempuran budaya asing yang masuk ke Indonesia.
Selain itu, ada beberapa kalangan yang tidak
menyukai lengger. Mereka beranggapan
bahwa budaya lengger calung bertentangan dengan ajaran agama Islam. Seperti syarat yang harus dilakukan untuk
menjadi penari lengger. Hal tersebut
dianggap musyrik oleh beberapa kalangan. Dan juga tariannya yang dianggap seronok
mengandung unsur pornografi. Tetapi Bapak
Hadi Soemarto Sukendar selaku ketua Langen Budaya Banyumas mengatakan, ”penyebaran
ajaran agama dulu tidak bisa lepas dari budaya setempat”. Karena para alim ulama memakai kebudayaan
dimasing-masing wilayah untuk menyebarkan ajaran yang dibawanya. Ia juga beranggapan bahwa negara yang besar
adalah negara yang mencintai dan melestarikan budayanya. Karena budaya merupakan warisan nenek moyang
dan sebagai jati diri suatu bangsa yang harus dipertahankan.
No comments :
Post a Comment